Rockwool dan fiberglass merupakan dua material isolasi serat mineral yang paling banyak digunakan di dunia konstruksi dan industri. Keduanya menawarkan perlindungan termal dan akustik, namun berbeda dalam komposisi, performa, keamanan, dan dampak lingkungan. Pemilihan yang tepat bergantung pada kebutuhan spesifik proyek, anggaran, dan standar regulasi. Artikel ini membandingkan rockwool dengan fiberglass serta material lain seperti busa poliuretan dan selulosa, dengan fokus pada data teknis dan aplikasi di Indonesia.
Komposisi dan Proses Produksi
Rockwool dibuat dari batuan basalt atau slag yang dilebur pada 1.500°C, dipintal menjadi serat, dan diikat resin fenolik rendah emisi. Proses ini menghasilkan struktur berpori alami dengan densitas 40-200 kg/m³. Fiberglass, atau glasswool, menggunakan pasir kuarsa dan kaca daur ulang yang dilebur pada 1.000°C, kemudian ditiup udara menjadi serat halus berdiameter 5-10 mikron.
Produksi rockwool memerlukan energi lebih tinggi, tetapi 70% bahan baku daur ulang. Fiberglass lebih hemat energi produksi, namun sering mengandung formaldehida sebagai pengikat. Busa poliuretan disemprot dari senyawa kimia, sementara selulosa berasal dari kertas koran daur ulang yang diolah dengan boraks.
Performa Termal dan Akustik
Rockwool memiliki konduktivitas termal 0,032-0,040 W/m·K, sedikit lebih baik dari fiberglass 0,035-0,045 W/m·K. Pada ketebalan sama 50 mm, rockwool mencapai nilai R 1,5 m²K/W, fiberglass 1,3. Di iklim tropis, rockwool menurunkan suhu interior 6°C, fiberglass 5°C.
Untuk akustik, rockwool unggul dengan NRC 0,95 berkat serat lebih padat dan panjang. Fiberglass NRC 0,85, cukup untuk rumah tinggal tetapi kurang di studio. Busa poliuretan NRC rendah 0,4, lebih cocok isolasi termal. Selulosa NRC 0,8, namun rentan menyusut.
Ketahanan Api dan Keamanan
Rockwool kelas A1 tahan api hingga 1.000°C, menahan penjalaran 4 jam tanpa asap beracun. Fiberglass meleleh pada 600°C, meski tidak menyala, seratnya rapuh saat terbakar. Busa poliuretan mudah terbakar kelas B2, memerlukan lapisan fire retardant. Selulosa kelas B1 dengan boraks, namun debu mudah menyebar.
Rockwool non-higroskopis, tahan jamur tanpa bahan kimia tambahan. Fiberglass menyerap air jika tidak dilapisi, berisiko korosi. Busa poliuretan tahan air tetapi mengandung VOC tinggi. Selulosa rentan hama jika tidak diolah.
Baca juga: Kustomisasi Rumah Instan: Menyesuaikan Hunian dengan Kebutuhan Individu
Dampak Lingkungan dan Daya Tahan
Rockwool 80% daur ulang, dapat direcycle sepenuhnya setelah 50 tahun pakai. Fiberglass 40% daur ulang, sulit direcycle karena resin. Busa poliuretan berbasis minyak bumi, tidak biodegradable. Selulosa 85% daur ulang, ramah lingkungan tetapi umur 20-30 tahun.
Di Indonesia, rockwool lokal di Cikarang mengurangi emisi transportasi. Fiberglass impor dari China mendominasi pasar murah. Proyek green building seperti Menara BCA lebih memilih rockwool untuk poin LEED.
Biaya dan Kemudahan Pemasangan
Harga rockwool Rp150.000-Rp300.000 per m², fiberglass Rp100.000-Rp200.000. Busa poliuretan Rp250.000, selulosa Rp80.000. Rockwool lebih berat, memerlukan struktur pendukung kuat. Fiberglass ringan, mudah dipotong, tapi iritasi kulit lebih tinggi.
Pemasangan rockwool butuh APD lengkap karena debu mineral. Fiberglass lebih gatal, sering ditolak tukang. Busa disemprot cepat, selulosa ditiup mesin.
Aplikasi Spesifik
Rockwool ideal untuk fire wall apartemen, isolasi pipa PLTGU, dan greenhouse hidroponik. Fiberglass cocok rumah subsidi, plafon kantor, dan cold storage. Busa poliuretan untuk atap datar, selulosa untuk retrofit dinding kayu.
Di proyek bandara Ngurah Rai, rockwool dipilih untuk shaft lift. Rumah instan subsidi memakai fiberglass untuk hemat biaya. Pabrik semen Indarung menggunakan rockwool di kiln suhu tinggi.
Rockwool unggul di performa premium, keamanan api, dan umur panjang, cocok proyek komersial dan industri. Fiberglass menawarkan nilai ekonomis untuk hunian massal. Busa poliuretan untuk aplikasi sempit, selulosa untuk bangunan existing.
Pemilihan tergantung prioritas: rockwool untuk investasi jangka panjang dan sertifikasi hijau, fiberglass untuk anggaran terbatas. Kombinasi keduanya bahkan mulai populer, seperti rockwool di area kritis dan fiberglass di partisi sekunder. Dengan regulasi SNI dan Greenship yang semakin ketat, rockwool diprediksi mendominasi pasar isolasi berkualitas di Indonesia pada 2030.
Memiliki rencana untuk menggunakan bahan prefabrikasi untuk bangunan? Rencanakan pembangunan Anda bersama Sanwaprefab. Hubungi kami sekarang.
